ARTI DOSA KETURUNAN

0
244

Istilah dosa keturunan memang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang Kristen. Istilah lain disebut dengan sinful nature manusia, yang disebut juga sebagai kodrat dosa manusia. Dosa ini diwariskan oleh nenek moyang umat manusia, yaitu Adam dan Hawa. Sebenarnya, apakah yang mereka perbuat? Serta bagaimanakah dosa ini diturunkan sampai kepada kita hari ini? Apakah kodrat dosa ini mampu lepas dari manusia?

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita membahas apa itu dosa lebih dulu. Menurutmu apa? Berbohong? Membunuh? Mencuri? Korupsi? Itu semua tidak salah, namun tidak sepenuhnya tepat. Jika ditinjau dari bahasa asli Alkitab, ‘dosa’ dalam Bahasa Yunani adalah hamartano (Roma 3:23), yang berarti tidak kena; tidak sampai. Maksudnya disini kepada tujuan/maksud Allah. Misal seperti ini, Allah bermaksud untuk Adam mengerti cara bermain piano, tetapi malahan ia hanya mampu bermain pianika. Sama-sama memainkan tuts nada-nada yang indah, namun apa yang dicapai Adam tidak sampai kepada maksud Allah yang sebenarnya. Lagipula nada-nada piano tentu jauh lebih indah dibandingkan pianika. Jadi, bukan hanya hal-hal bersifat negatif (atau yang merugikan orang lain) saja yang masuk ke dalam kategori dosa, melainkan setiap hal yang tidak memenuhi maksud Allah dengan tepat itulah dosa. Dari hal ini kita bisa memperluas pengertian kita tentang dosa.

 

Apakah Dosa Keturunan Adalah Dosa Yang Diturunkan Melalui Gen?

Seperti misalnya penyakit keturunan. Tentu tidak! Dosa itu tidak memiliki kode-kode genetik yang terkandung dalam informasi yang dibawa oleh kromosom, sehingga jelas tidak bisa diturunkan melalui gen. Lalu, muncul pertanyaan, mengapa istilah dosa tersebut menggunakan kata keturunan? Sementara Adam dan Hawa saja sudah tidak hidup di zaman ini, bagaimana dosa mereka diturunkan sampai kepada kita? Semoga misteri ini akan terjawab pada akhir tulisan ini.

 

Pohon ‘Spesial’ Di Taman Eden

Mungkin masih ada di antara kita yang berasumsi bahwa kedua pohon spesial di Taman Eden adalah sejenis flora yang berciri memiliki batang kokoh, bercabang, berdaun rindang, dan berakar kuat. Itu adalah hal yang salah. Pohon dan buah dalam konteks ini memiliki makna figuratif atau hanya penggambaran saja supaya bisa dimengerti oleh pembaca/pendengar pertamanya pada waktu taurat ditulis, yaitu Bangsa Israel.

Kita harus mengerti bahwa buah sejatinya adalah sesuatu yang dihasilkan melalui proses panjang yang dikerjakan oleh suatu pohon. Melaui daunnya yang memiliki fitur khusus untuk menangkap sinar matahari dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk menciptakan zat-zat makanan, yang juga dibantu oleh air yang diserap oleh akar-akarnya yang kuat, yang lalu kemudian didistribusikan ke bagian tertentu untuk kemudian dipupuk dan dikembangkan sehingga menjadi buah yang matang. Dan buah ini dipakai sebagai cadangan makanan yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup pohon tersebut. Maka seperti itu jugalah makna buah dalam konteks Kejadian. Yaitu sesuatu yang diperoleh melalui proses penyerapandari lingkungan dalam kurun waktu tertentu dan kemudian digunakan demi kelangsungan hidup manusia.

Tuhan tidak menghendaki Adam dan Hawa untuk mengkonsumsi buah dari pohon atau sumber yang lain, melainkan untuk mengkonsumsi apa yang berasal dari Tuhan saja. Yaitu untuk menyerap nilai-nilai atau pandangan-pandangan yang benar dari Allah. Sehingga diharapkan nilai atau pandangan tersebut bisa diproses dan dipahami Adam, membentuk cara berpikir Adam dengan benar, dan kemudian melahirkan setiap tindakan atau keputusan yang benar juga. Cara berpikir ini menjadi sangat penting dan vital untuk menentukan kualitas hidup manusia. Seperti ada tertulis, ‘…your thoughts run your life.’ (Amsal 3:23 NCV)

 

Apa Dampak Yang Ditimbulkan?

Adam dan Hawa tidak lagi fokus/tertuju pada Allah semata. Mereka mulai melihat hal-hal yang sebenarnya tidak Tuhan permasalahkan. Mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Padahal yang lebih Tuhan permasalahkan adalah tindakan, sikap hati, pemikiran mereka. Bukan sekedar masalah fisik. Mereka telah memiliki orientasi memandang yang keliru dari apa yang sebenarnya Tuhan maksudkan. Seperti beda arah hanya satu derajat, tetapi jika diteruskan akan menjadi sangat jauh dari garis 0o (Nol derajat). Begitulah dosa menggiring kita semakin menjauhi maksud Allah yang sebenarnya.

Pola pengasuhan Adam dan Hawa terhadap anak-anaknya juga pasti sudah keliru. Mereka mulai kurang memahami konsep-konsep pokok kehidupan dengan tepat benar. Seharusnya hal tersebut bisa dipahami dengan benar, jika mereka menerima langsung masukan dari Tuhan saja, bukan diolah dari ‘buah’ yang lain. Mungkin mereka berselisih tentang hal mengasihi anak-anak mereka, mendidik atau mendisiplinkannya, apalagi tentang memperkenalkan siapa Tuhan dan mengapa mereka ada di bumi. Lihat saja, bahkan cara memberikan korban persembahan Kain dan Habel bisa berbeda.

Cara memandang yang keliru inilah yang diturunkan oleh Adam dan Hawa pertama-tama kepada anak-anaknya: Kain, Habel, dan Set. Dalam Kejadian 5:3, disebutkan bahwa keturunan Adam memiliki gambar dan rupa seperti Adam, bukan seperti Tuhan. Adam telah gagal mewariskan cara berpikir yang tepat benar menurut maksud Allah. Dan hal itu terus dilanjutkan oleh generasi pertama ke generasi ke dua, lalu dari generasi kedua ke generasi ketiga, dan seterusnya. Dari kekurangpahaman yang mungkin hanya berselisih sedikit dari tujuan Allah yang sebenarnya, lalu diteruskan menjadi semakin salah paham, dan mungkin nantinya sampai dimana manusia sama sekali tidak paham maksud dan tujuan Allah yang sebenarnya. Manusia tidak lagi memiliki pola pikir dan gaya hidup yang benar serta berkenan di hadapan Tuhan.

 

Apakah Dosa Keturunan Bisa Diampuni?

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, lalu apakah dosa keturuan ini juga sudah diampuni? Tidak sesederhana itu.

Kedatangan Tuhan Yesus membawa misi untuk mengembalikan apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh manusia pertama, yaitu tindakan yang tepat seperti maunya Bapa. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan Ia memberikan cara hidup yang baru yang lahir dari cara berpikir yang benar. Pengajaran atau khotbahNya adalah suatu terobosan baru dalam mandegnya keberagamaan yang juga belum mampu mencapai maksud Allah.

Dalam Roma 3:23 dikatakan bahwa keadaan berdosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. ‘Kemuliaan Allah’ yang dimaksud juga menunjuk pada keagungan cara berpikir Allah. Lalu, kata ‘kehilangan’ dalam ayat ini juga memiliki makna kekurangan, gagal mencapai, atau menjauhkan diri. Jadi bukan hilang atau sirna sama sekali. Manusia masih memiliki pikiran, namun kualitasnya berkurang.

Kata ‘bertobat’ dalam Lukas 5:32 diterjemahkan dari kata metanoia, yang juga berarti perubahan pikiran (a change of mind, as it appears to one who repents of a purpose he has formed or of something he has done). Ini berarti bahwa pertobatan sesungguhnya adalah membawa kita kepada cara berpikir yang baru, yaitu untuk sampai kepada mengerti maksud Allah dengan tepat. Dengan cara seperti inilah dosa keturunan bisa diampuni. Tentunya melalui proses yang panjang. Dan harus disadari bahwa proses ini adalah tanggung jawab yang harus kita perjuangkan.

(ANS)

Leave a Reply