DOTS

0
370

Mungkin masih banyak di antara kita yang menganggap bahwa bertobat merupakan satu langkah tindakan. Biasanya kita lakukan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (KKR), ketika pemimpin kebaktian menantang kita untuk mengaku dosa dan bertobat dalam satu kali doa. Lalu kita mengangkat tangan tanda berserah. Sering kali air mata kita juga berderai ketika kita mengucap, “Tuhan Yesus ampuni aku. Aku mau bertobat.” Lalu, pemimpin kebaktian itu mengatakan bahwa dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan Yesus yang sudah mati di kayu salib dua ribu rahun yang lalu untuk menebus segala dosa kita, apapun dosa yang kita perbuat. Maka dengan penuh haru kita mengatakan, “Terima kasih, Tuhan Yesus. Aku tidak mau berdosa lagi.” Selesailah pertobatan kita. Mulai dari saat itu, kita merasa seperti terlahir baru. Kita mengalami banyak kesaksian hidup sejak kita ‘lahir baru’, pada saat itu.

Anehnya, setelah masa kelahiran baru tersebut, kita masih saja melakukan dosa yang sama. Kita berdosa lagi. Seharusnya kita bertobat lagi, lalu kita mengalami lahir baru lagi. Tunggu, bertobat lagi? Padahal tadi sebelumnya kita sudah menganggap bahwa kita sudah bertobat. Apa itu berarti kita belum benar-benar bertobat? Kenapa kita bisa bertobat lalu berdosa, lalu bertobat lagi? Setelah bertobat, lalu kita lahir baru. Sampai berapa kali kita bisa lahir baru? Apakah kelahiran baru adalah prosesi yang berulang-ulang? Kelahiran baru merujuk pada kesejajarannya dengan proses kelahiran pada bayi, dan seorang bayi saja hanya dilahirkan satu kali.

Pengertian yang benar adalah bahwa pertobatan itu sebenarnya bukanlah satu langkah tindakan. Melainkan rangkaian tindakan yang berkelanjutan, artinya pasti dikerjakan terus-menerus dan secara konsisten. Bertobat bukan seperti satu titik, melainkan rangkaian titik sehingga menjadi sebuah garis yang terus naik dan mencapai kersempurnaan (Matius 5:48). Jadi, kalau cuma berdoa dan minta ampun, belumlah dibilang sudah bertobat tuntas, tapi perubahan yang kita lakukan terus meneruslah yang dapat dikatakan sebagai pertobatan kita. Ingat, bukan satu kali langkah, bukan satu titik, melainkan rangkaian tindakan seperti titik titik koordinat baru yang terus kita buat. Dalam hal ini, progresivitas/perkembangan kita sangat menampilkan apakah pertobatan kita berjalan nyata atau tidak sama sekali.

Menurut Alkitab, bertobat yang dimaksudkan adalah seperti yang tertulis dalam Roma 12:1-2. Di dalam ayat tersebut ditulis bahwa bertobat sama dengan adanya perubahan pikiran atau dalam bahasa aslinya metanoia. Pikiran kita yang diubah dari yang tadinya setuju dengan semangat zaman menjadi setuju dengan pikiran dan rencana Allah. Pikiran kita yang tadinya memiliki nilai-nilai tentang segala sesuatu yang duniawi diubahkan dengan pikiran-pikiran yang tertuju pada nilai-nilai kekekalan. Apa yang dimaksud dengan semangat zaman? Semangat zaman adalah apa yang dikejar oleh kebanyakan orang melebihi segala hal sebagai tujuan hidup mereka pada zaman ini, misalnya kenyamanan, kebahagiaan, kehormatan, dan lain sebagainya. Sementara pikiran dan rencana Allah bukanlah berfokus pada hal-hal tersebut, melainkan pada bagaimana menjalani kehidupan ini sesuai dengan komandoNya Tuhan atau sama juga dengan hidup yang dipimpin oleh Roh Allah supaya kita bisa menjalani kekekalan nantinya bersam-sama dengan Dia.

Mengubah pikiran itu bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana kita memasukkan input yang salah ke dalam pikiran kita selama bertahun-tahun, demikian pula kita harus berjuang mengeluarkan atau mengganti input tersebut dari pikiran kita dengan memasukkan input baru ke dalam pikiran kita. Dan input baru itu adalah firman, yaitu kebenaran. Firman atau kebenaran Allah yang memenuhi pikiran kita (logos) akan memandu kita untuk memiliki suara Tuhan dalam hidup kita (rhema). Rhema yang ada pada diri kita akan memandu kita untuk memilih sikap yang benar terhadap segala seituasi ataupun kejadian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Sehingga kita mampu memahami apa yang harus dilakukan dan harus tidak dilakukan. Kehidupan yang seperti inilah yang dimaksud dengan kehidupan di bawah komando Tuhan.

Maka dari itu, kita harus terus menerus belajar kebenaran firman dan berani ekstrem mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah proses panjang yang berkelanjutan. Bukan satu titik tindakan, melainkan rangkaian titik yang ditulis oleh sikap yang kita perbuat dari hari ke hari. Ini adalah sebuah proyek besar yang berjalan berkelanjutan, yaitu proyek pertobatan kita.

(ANS)

Leave a Reply