Home Blog

DOTS

0

Mungkin masih banyak di antara kita yang menganggap bahwa bertobat merupakan satu langkah tindakan. Biasanya kita lakukan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (KKR), ketika pemimpin kebaktian menantang kita untuk mengaku dosa dan bertobat dalam satu kali doa. Lalu kita mengangkat tangan tanda berserah. Sering kali air mata kita juga berderai ketika kita mengucap, “Tuhan Yesus ampuni aku. Aku mau bertobat.” Lalu, pemimpin kebaktian itu mengatakan bahwa dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan Yesus yang sudah mati di kayu salib dua ribu rahun yang lalu untuk menebus segala dosa kita, apapun dosa yang kita perbuat. Maka dengan penuh haru kita mengatakan, “Terima kasih, Tuhan Yesus. Aku tidak mau berdosa lagi.” Selesailah pertobatan kita. Mulai dari saat itu, kita merasa seperti terlahir baru. Kita mengalami banyak kesaksian hidup sejak kita ‘lahir baru’, pada saat itu.

Anehnya, setelah masa kelahiran baru tersebut, kita masih saja melakukan dosa yang sama. Kita berdosa lagi. Seharusnya kita bertobat lagi, lalu kita mengalami lahir baru lagi. Tunggu, bertobat lagi? Padahal tadi sebelumnya kita sudah menganggap bahwa kita sudah bertobat. Apa itu berarti kita belum benar-benar bertobat? Kenapa kita bisa bertobat lalu berdosa, lalu bertobat lagi? Setelah bertobat, lalu kita lahir baru. Sampai berapa kali kita bisa lahir baru? Apakah kelahiran baru adalah prosesi yang berulang-ulang? Kelahiran baru merujuk pada kesejajarannya dengan proses kelahiran pada bayi, dan seorang bayi saja hanya dilahirkan satu kali.

Pengertian yang benar adalah bahwa pertobatan itu sebenarnya bukanlah satu langkah tindakan. Melainkan rangkaian tindakan yang berkelanjutan, artinya pasti dikerjakan terus-menerus dan secara konsisten. Bertobat bukan seperti satu titik, melainkan rangkaian titik sehingga menjadi sebuah garis yang terus naik dan mencapai kersempurnaan (Matius 5:48). Jadi, kalau cuma berdoa dan minta ampun, belumlah dibilang sudah bertobat tuntas, tapi perubahan yang kita lakukan terus meneruslah yang dapat dikatakan sebagai pertobatan kita. Ingat, bukan satu kali langkah, bukan satu titik, melainkan rangkaian tindakan seperti titik titik koordinat baru yang terus kita buat. Dalam hal ini, progresivitas/perkembangan kita sangat menampilkan apakah pertobatan kita berjalan nyata atau tidak sama sekali.

Menurut Alkitab, bertobat yang dimaksudkan adalah seperti yang tertulis dalam Roma 12:1-2. Di dalam ayat tersebut ditulis bahwa bertobat sama dengan adanya perubahan pikiran atau dalam bahasa aslinya metanoia. Pikiran kita yang diubah dari yang tadinya setuju dengan semangat zaman menjadi setuju dengan pikiran dan rencana Allah. Pikiran kita yang tadinya memiliki nilai-nilai tentang segala sesuatu yang duniawi diubahkan dengan pikiran-pikiran yang tertuju pada nilai-nilai kekekalan. Apa yang dimaksud dengan semangat zaman? Semangat zaman adalah apa yang dikejar oleh kebanyakan orang melebihi segala hal sebagai tujuan hidup mereka pada zaman ini, misalnya kenyamanan, kebahagiaan, kehormatan, dan lain sebagainya. Sementara pikiran dan rencana Allah bukanlah berfokus pada hal-hal tersebut, melainkan pada bagaimana menjalani kehidupan ini sesuai dengan komandoNya Tuhan atau sama juga dengan hidup yang dipimpin oleh Roh Allah supaya kita bisa menjalani kekekalan nantinya bersam-sama dengan Dia.

Mengubah pikiran itu bukanlah hal yang mudah. Sebagaimana kita memasukkan input yang salah ke dalam pikiran kita selama bertahun-tahun, demikian pula kita harus berjuang mengeluarkan atau mengganti input tersebut dari pikiran kita dengan memasukkan input baru ke dalam pikiran kita. Dan input baru itu adalah firman, yaitu kebenaran. Firman atau kebenaran Allah yang memenuhi pikiran kita (logos) akan memandu kita untuk memiliki suara Tuhan dalam hidup kita (rhema). Rhema yang ada pada diri kita akan memandu kita untuk memilih sikap yang benar terhadap segala seituasi ataupun kejadian yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Sehingga kita mampu memahami apa yang harus dilakukan dan harus tidak dilakukan. Kehidupan yang seperti inilah yang dimaksud dengan kehidupan di bawah komando Tuhan.

Maka dari itu, kita harus terus menerus belajar kebenaran firman dan berani ekstrem mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah proses panjang yang berkelanjutan. Bukan satu titik tindakan, melainkan rangkaian titik yang ditulis oleh sikap yang kita perbuat dari hari ke hari. Ini adalah sebuah proyek besar yang berjalan berkelanjutan, yaitu proyek pertobatan kita.

(ANS)

ARTI DOSA KETURUNAN

0

Istilah dosa keturunan memang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang Kristen. Istilah lain disebut dengan sinful nature manusia, yang disebut juga sebagai kodrat dosa manusia. Dosa ini diwariskan oleh nenek moyang umat manusia, yaitu Adam dan Hawa. Sebenarnya, apakah yang mereka perbuat? Serta bagaimanakah dosa ini diturunkan sampai kepada kita hari ini? Apakah kodrat dosa ini mampu lepas dari manusia?

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita membahas apa itu dosa lebih dulu. Menurutmu apa? Berbohong? Membunuh? Mencuri? Korupsi? Itu semua tidak salah, namun tidak sepenuhnya tepat. Jika ditinjau dari bahasa asli Alkitab, ‘dosa’ dalam Bahasa Yunani adalah hamartano (Roma 3:23), yang berarti tidak kena; tidak sampai. Maksudnya disini kepada tujuan/maksud Allah. Misal seperti ini, Allah bermaksud untuk Adam mengerti cara bermain piano, tetapi malahan ia hanya mampu bermain pianika. Sama-sama memainkan tuts nada-nada yang indah, namun apa yang dicapai Adam tidak sampai kepada maksud Allah yang sebenarnya. Lagipula nada-nada piano tentu jauh lebih indah dibandingkan pianika. Jadi, bukan hanya hal-hal bersifat negatif (atau yang merugikan orang lain) saja yang masuk ke dalam kategori dosa, melainkan setiap hal yang tidak memenuhi maksud Allah dengan tepat itulah dosa. Dari hal ini kita bisa memperluas pengertian kita tentang dosa.

 

Apakah Dosa Keturunan Adalah Dosa Yang Diturunkan Melalui Gen?

Seperti misalnya penyakit keturunan. Tentu tidak! Dosa itu tidak memiliki kode-kode genetik yang terkandung dalam informasi yang dibawa oleh kromosom, sehingga jelas tidak bisa diturunkan melalui gen. Lalu, muncul pertanyaan, mengapa istilah dosa tersebut menggunakan kata keturunan? Sementara Adam dan Hawa saja sudah tidak hidup di zaman ini, bagaimana dosa mereka diturunkan sampai kepada kita? Semoga misteri ini akan terjawab pada akhir tulisan ini.

 

Pohon ‘Spesial’ Di Taman Eden

Mungkin masih ada di antara kita yang berasumsi bahwa kedua pohon spesial di Taman Eden adalah sejenis flora yang berciri memiliki batang kokoh, bercabang, berdaun rindang, dan berakar kuat. Itu adalah hal yang salah. Pohon dan buah dalam konteks ini memiliki makna figuratif atau hanya penggambaran saja supaya bisa dimengerti oleh pembaca/pendengar pertamanya pada waktu taurat ditulis, yaitu Bangsa Israel.

Kita harus mengerti bahwa buah sejatinya adalah sesuatu yang dihasilkan melalui proses panjang yang dikerjakan oleh suatu pohon. Melaui daunnya yang memiliki fitur khusus untuk menangkap sinar matahari dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk menciptakan zat-zat makanan, yang juga dibantu oleh air yang diserap oleh akar-akarnya yang kuat, yang lalu kemudian didistribusikan ke bagian tertentu untuk kemudian dipupuk dan dikembangkan sehingga menjadi buah yang matang. Dan buah ini dipakai sebagai cadangan makanan yang diperlukan untuk keberlangsungan hidup pohon tersebut. Maka seperti itu jugalah makna buah dalam konteks Kejadian. Yaitu sesuatu yang diperoleh melalui proses penyerapandari lingkungan dalam kurun waktu tertentu dan kemudian digunakan demi kelangsungan hidup manusia.

Tuhan tidak menghendaki Adam dan Hawa untuk mengkonsumsi buah dari pohon atau sumber yang lain, melainkan untuk mengkonsumsi apa yang berasal dari Tuhan saja. Yaitu untuk menyerap nilai-nilai atau pandangan-pandangan yang benar dari Allah. Sehingga diharapkan nilai atau pandangan tersebut bisa diproses dan dipahami Adam, membentuk cara berpikir Adam dengan benar, dan kemudian melahirkan setiap tindakan atau keputusan yang benar juga. Cara berpikir ini menjadi sangat penting dan vital untuk menentukan kualitas hidup manusia. Seperti ada tertulis, ‘…your thoughts run your life.’ (Amsal 3:23 NCV)

 

Apa Dampak Yang Ditimbulkan?

Adam dan Hawa tidak lagi fokus/tertuju pada Allah semata. Mereka mulai melihat hal-hal yang sebenarnya tidak Tuhan permasalahkan. Mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Padahal yang lebih Tuhan permasalahkan adalah tindakan, sikap hati, pemikiran mereka. Bukan sekedar masalah fisik. Mereka telah memiliki orientasi memandang yang keliru dari apa yang sebenarnya Tuhan maksudkan. Seperti beda arah hanya satu derajat, tetapi jika diteruskan akan menjadi sangat jauh dari garis 0o (Nol derajat). Begitulah dosa menggiring kita semakin menjauhi maksud Allah yang sebenarnya.

Pola pengasuhan Adam dan Hawa terhadap anak-anaknya juga pasti sudah keliru. Mereka mulai kurang memahami konsep-konsep pokok kehidupan dengan tepat benar. Seharusnya hal tersebut bisa dipahami dengan benar, jika mereka menerima langsung masukan dari Tuhan saja, bukan diolah dari ‘buah’ yang lain. Mungkin mereka berselisih tentang hal mengasihi anak-anak mereka, mendidik atau mendisiplinkannya, apalagi tentang memperkenalkan siapa Tuhan dan mengapa mereka ada di bumi. Lihat saja, bahkan cara memberikan korban persembahan Kain dan Habel bisa berbeda.

Cara memandang yang keliru inilah yang diturunkan oleh Adam dan Hawa pertama-tama kepada anak-anaknya: Kain, Habel, dan Set. Dalam Kejadian 5:3, disebutkan bahwa keturunan Adam memiliki gambar dan rupa seperti Adam, bukan seperti Tuhan. Adam telah gagal mewariskan cara berpikir yang tepat benar menurut maksud Allah. Dan hal itu terus dilanjutkan oleh generasi pertama ke generasi ke dua, lalu dari generasi kedua ke generasi ketiga, dan seterusnya. Dari kekurangpahaman yang mungkin hanya berselisih sedikit dari tujuan Allah yang sebenarnya, lalu diteruskan menjadi semakin salah paham, dan mungkin nantinya sampai dimana manusia sama sekali tidak paham maksud dan tujuan Allah yang sebenarnya. Manusia tidak lagi memiliki pola pikir dan gaya hidup yang benar serta berkenan di hadapan Tuhan.

 

Apakah Dosa Keturunan Bisa Diampuni?

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, lalu apakah dosa keturuan ini juga sudah diampuni? Tidak sesederhana itu.

Kedatangan Tuhan Yesus membawa misi untuk mengembalikan apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh manusia pertama, yaitu tindakan yang tepat seperti maunya Bapa. Bagaimana caranya? Tidak lain adalah dengan Ia memberikan cara hidup yang baru yang lahir dari cara berpikir yang benar. Pengajaran atau khotbahNya adalah suatu terobosan baru dalam mandegnya keberagamaan yang juga belum mampu mencapai maksud Allah.

Dalam Roma 3:23 dikatakan bahwa keadaan berdosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. ‘Kemuliaan Allah’ yang dimaksud juga menunjuk pada keagungan cara berpikir Allah. Lalu, kata ‘kehilangan’ dalam ayat ini juga memiliki makna kekurangan, gagal mencapai, atau menjauhkan diri. Jadi bukan hilang atau sirna sama sekali. Manusia masih memiliki pikiran, namun kualitasnya berkurang.

Kata ‘bertobat’ dalam Lukas 5:32 diterjemahkan dari kata metanoia, yang juga berarti perubahan pikiran (a change of mind, as it appears to one who repents of a purpose he has formed or of something he has done). Ini berarti bahwa pertobatan sesungguhnya adalah membawa kita kepada cara berpikir yang baru, yaitu untuk sampai kepada mengerti maksud Allah dengan tepat. Dengan cara seperti inilah dosa keturunan bisa diampuni. Tentunya melalui proses yang panjang. Dan harus disadari bahwa proses ini adalah tanggung jawab yang harus kita perjuangkan.

(ANS)

Mawar Berduri

0

Mawar adalah suatu jenis tanaman semak dari genus Rosa. Mawar liar terdiri dari 100 spesies lebih, kebanyakan tumbuh dibelahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya tanaman semak berduri atau tanaman memanjat yang tingginya bisa mencapai 2-5 meter. Walaupun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat ditanaman lain bisa mencapai 20 meter. Seperti yang kita tahu Mawar memang cantik namun ia juga punya duri tajam pada batangnya. Duri tersebut memiliki fungsi sebagai berikut :

  1. Bunga mawar berduri sebagai pertahanan dari musuh (baik dari binatang maupun dari manusia) yang ingin mengambil/memakan bunga tersebut.
  2. Bunga mawar berduri sebagai pengait unutk merambat menuju datangnya sinar matahari.
  3. Bunga mawar berduri supaya dapat menghindari terjadinya erosi.

 

Karena bunga mawar merupakan bunga yang indah maka ia sering dipakai untuk menyatakan cinta kepada seorang wanita. Keindahan bunga mawar juga sering dipakai untuk menggambarkan sosok wanita cantik  yang berusaha meraih nya namun berhati-hati pada durinya. Seorang pria berusaha mendapatkan perhatian dari sang wanita cantik tersebut  dengan berbagi macam cara salah satunya dengan memujanya. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa wanita lemah dipendengarannya, maksudnya wanita sering terlena dengan pujian atau kata-kata manis, rayuan manja (termasuk perhatian-perhatian basi) yang dilontarkan dari mulut pria. Wanita bukan nya tidak tahu kalau pria sering memanfaatkan kelemahannya itu, wanita tahu hanya saja mereka males untuk bangkit dari posisi nyaman mereka itu (keadaan atau posisi dimana mereka dipuja melalui rayuan maut pria).

 

Wanita itu mudah luluh, pertama mereka akan mulai luluh dari kata-kata indah yang didendangkan masuk ke telinga, kemudian masuk ke dalam relung hati (perasaan) yang terus dikembangkan sehingga membuat si wanita merasa nyaman dan terbiasa. Setelah merasa nyaman (hati melekat), maka cenderung otak tak berfungsi sehingga hati lah yang mengambil keputusan (ini dalam kondisi hati sudah melekat ke pria itu). Akhirnya si mahluk perasa menjatuhkan pilihan pada pria yang sudah melekat dihatinya. Seharusnya sang wanita perlu mempertimbangkan bibit bobot seorang pria yang akan diajak mengarungi hidup bersama namun karena hati sudah melekat pilihan juga menjadi tidak obejektif, tapi subjektif karena berdasarkan hal yang menyenangkan saja.

 

Seperti mawar memiliki duri yang merupakan bagian dari dirinya. Wanita yang digambarkan seperti bunga mawar harus memiliki duri dalam dirinya, loh maksudnya gimana?wanita berduri?Seperti yang sudah dijelaskan diatas duri mawar berfungsi sebagai pertahanan. Tadi diatas kita sempat membahas bahwa mawar sering diilustrasikan sebagai wanita cantik, nah sekarang kita juga mau mengilustrasikan  duri pada bunga mawar tersebut ibarat nya itu seperti Firman Tuhan. Seperti mawar memiliki duri maka seperti itulah wanita harus memiliki Firman yang menjadi bagian dalam dirinya (menyatu). Firman Tuhan yang menyatu dengan hidup wanita (sang mawar) akan melindung wanita dari berbagai  jerat dunia ini. Sebab firman yang telah menyatu dalam diri seseorang akan memaksa orang tersebut untuk melakukan firman itu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Wanita harus memiliki firman dalam hidupnya, sebab firman itulah yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam memutuskan sesuatu termasuk soal pasangan hidup yang akan mendampinginya seumur hidupnya untuk melayani Tuhan. Wanita yang tidak tinggal dalam firman akan sembarangan dalam hidup, ia akan merelakan hatinya melekat pada siapa saja yang membuat nya nyaman tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Selain itu firman sangatlah penting dalam kehidupan seorang wanita karena dengan firman ia mampu menemukan fungsi nya yakni menjadi penolong (Kejadian 2:18-20). Bukan suatu kebetulan wanita diciptakan punya kemampuan multi tasking (melakukan 2-3 pekerjaan secara bersamaan),kemudian bukan sebuah kebetulan bahwa survey membuktikan sejak kecil bayi perempuan lebih cerewet dibanding bayi laki-laki hal ini membuktikan bahwa bayi perempuan memang menyerap dan mengeluarkan kata-kata yang lebih banyak dari laki-laki sebenarnya hal- hal ini sangat membantu loh fungsi dalam menjadi penolong. Wanita harus mengenal firman supaya ia dapat melayani Tuhan, maksudnya adalah wanita akan menopang dan menolong tugas yang Tuhan berikan pada suami dan selain itu wanita juga harus tunduk pada suami maka idengan begitu ia melayani Tuhan. Maka penting bagi wanita untuk menemukan calon suami atau pendamping nya adalah orang yang sudah menemukan panggilan Tuhan dalam suatu bidang yang di dalam nya ia mampu mengembangkan potensi nya, inilah arti melayani Tuhan bagi seorang pria. Wanita yang tidak belajar kebenaran Firman tak mampu melihat dan mempertimbangkan hal ini dalam memilih pasangannya. So sang pria harus menemukan Tuhan dan kehendakNYA begitu juga dengan wanita, karena menikah itu melayani Tuhan.

 

Satu hal lagi yang kita juga harus belajar dari mawar berduri bahwa mawar memiliki umur  +/- 1-2 minggu, dan umur manusia +/- 70 tahun itu artinya mawar dan manusia  sama-sama memiliki umur yang pendek. Oleh sebab itu lebih dari apapun mari mempersiapkan diri kita  untuk menyambut kedatangan Tuhan yang semakin dekat, supaya  kita layak menjadi mempelai-mempelaiNYA, amin.

Bahasaku, Bahasamu, dan Bahasa-NYA

0

Ketika seorang manusia dilahirkan ke dunia ia pasti belum bisa berbicara dengan baik bahkan tak mengerti caranya berbicara. Kemudian manusia itu mulai mengucapkan kata untuk pertama kalinya. Pernahkah kalian mempertanyakan dari mana anak itu mengenal kata-kata? Kemungkinan terbesar dari sang ibu yang selalu melafalkan kata-kata (bahasa ibu). Kemudian kita mulai mempertanyakannya lagi darimana asal bahasa ibu itu? Mengapa setiap anak yang baru lahir diberbagai belahan dunia mereka bisa mengenal bahasa yang sering digunakan oleh orang-orang disekelilingnya (keluarga), bagamana proses pengenalannya? Terkait hal ini kita mulai mempertanyakan juga bagaimana para manusia zaman awal mengenal sebuah bahasa dan menggunakannya untuk berkomunikasi dengan kelompoknya. Pengertian bahasa menurut para ahli antara lain sebagai berikut :

  • Menurut Chaer dan Agustina, bahasa adalah alat untu berinterkasi  dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.
  • Menurut Keraf, bahasa merupakan alat komunikasi antara masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat manusia.
  • Menurut Martinet, bahasa adalah sebuah alat komunikasi untuk menganalisis pengalaman amengandung isi semanik dan oengungkapan bunyi yaitu monem.

Dari banyak nya pengertian tentang bahasa kita dapat merangkum bahwa bahasa merupakan alat komunikasi untuk berinteraksi antar individu  atau antar komunitas. Melalui pengertian bahasa ini kita bisa mengetahui kalau bahasa punya peran yang penting dalam suatu kehidupan bermasyarakat. Bahasa itu bukan hanya suatu perkataan yang keluar dari mulut tapi juga gerak tubuh seseorang (anggukan/gelengan kepala, mata yang melotot, jempol tangan yang diacungkan, dsb). Tanpa bahasa maka seseorang tidak dapat berkomunikasi dengan benar atau sering terjadi nya miss komunikasi. Oleh sebab itu kenapa didunia ini ada yang namanya pelajaran bahasa, karena mempelajari tentang bahasa itu penting.

Dalam kelompok masyarakat umum kita mengenal suatu bahasa persatuan yang diajarkan oleh seluruh agama yaitu “bahasa kemanusiaan”. Bahasa Kemanusiaan adalah bahasa yang dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat. Kalau ditanya siapa yang menciptakannya bahasa kemanusiaan itu? Jawabannya adalah Tuhan Sang Pencipta. Sekalipun adam gagal mencapai standar seperti yang Tuhan kehendaki tapi adam masih dapat berbuat baik dalam standar manusia. Kebaikan adam itu pasti diturunkan pada seluruh keturunannya dari generasi ke generasi. Tuhan menuliskan hukum-hukumnya pada setiap hati nurani manusia, sehingga setiap manusia punya bahasa kebaikan/kemanusian itu. Namun karena dunia semakin hari semakin jahat perlahan hati nurani manusia tercemar oleh bahasa kebencian, keegoisan,,keserakahan dan lan-lain. Sehingga menciptakan manusia-manusia yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan kelompoknya. Bahasa kemanusiaan ini tidak memandang suku, ras, agama dan status sosial lainnya. Sehingga ketika ingin berbuat kebaikan (membantu sesama manusia) tidak ada ketakutan karena perbedaaan tersebut. Apapun suku, ras, agam dan status social kita jangan menjadi tolak ukur untuk menolong atau berbuat kebaikan bagi sesama karena Tuhan tidak pernah mengajarkan tolonglah orang yang “seiman saja atau Tanya dulu apa suku/agamanya”. Tuhan selalu mengajarkan keadilan dalam segala hal jadi kita perlu mengikut jejak keadilanNYA itu.

Berbeda dengan orang percaya yang harus mengerti bahasa Tuhan. Seperti yang  tertulis dalam Yohanes 8 : 43 “ Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-KU? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-KU ”. Maksud dari ayat ini adalah Tuhan Yesus berkata bahwa banyak orang yang tidak mengerti bahasaNYA dan sekaligus memberitahu alasan mengapa mereka tidak bisa mengerti bahasa Tuhan. Dalam Yohanes 8 : 43 perhatikan kata “menangkap” dalam bahasa aslinya (yunani) “akuo” yang memiliki arti memahami atau mengerti. Sedangkan kata “firman” dalam bahasa aslinya (yunani) “logos” yang memiliki arti kebenaran firman yang didapat dari tulisan, khotbah, cd, mp3 renungan. Jadi orang percaya tidak bisa mengerti bahasa Tuhan karena tidak mengerti kebenaran Firman Tuhan dengan benar apa yang disampaikan oleh  pendeta, didapat dari buku-buku rohani, mp3 renungan. “Bahasa Tuhan” adalah kemampuan mengerti pikiran Tuhan. Kemampuan ini bukanlah suatu pemberian dari Tuhan tapi suatu  hasil dari pembelajaran Firman Tuhan yang benar secara bertahap dan hasil dari membangun hubungan dengan Tuhan setiap harinya.

Mengapa kita harus mengerti bahasa Tuhan? Sebelumnya sudah dijelaskan diatas bahwa bahasa adalah alat komunikasi untuk berinteraksi, maka dari itu kita perlu sekali untuk mengerti bahasa Tuham (pikiran Tuhan) supaya mampu berinterkasi dengan Dia. Tuhan hanya akan memberitahukan kehendakNYA pada orang-orang yang senantiasa berinteraksi atau berhubungan denganNYA. Kehendak Tuhan pasti lahir dari pikiran Tuhan, betapa agungnya kita diberi kesempatan untuk bisa mengerti pikiran Tuhan. Ini sama sekali bukan berarti kita tidak menghormati Tuhan loh dengan bermaksud mengerti pikiran Tuhan yang hebat itu. Tapi ini bentuk kepercayaan dari Tuhan dan keagungan seorang manusia yang merupakan satu-satunya mahluk Tuhan yang memiliki akal.

Kemampuan pikiran atau akal kita mengerti bahasa Tuhan disebut “kepekaan”. Kepekaan maksudnya kita mengerti hal-hal atau tindakan apa yang bisa membuat Tuhan  melotot atau senyum kepada kita. Seorang anak kecil yang sedang berkejaran dengan teman-temannya harus mengerti sang ibu yang berteriak sambil berkata “Ojakkkk jangan main dipinggir jalan nanti ke tabrak!!”, sang ibu sedang menunjukkan bahasa khawatir nya pada sang anak. Kemudian kiki seorang anak berusia 10 tahun merengek-rengek di mall kepada ibunya karena minta dibelikan sepatu namun sang ibu hanya melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya ke arah kiki, ini juga merupakan bahasa.  

Jika kita tidak peka akan kehendak Allah tak mungkin bisa melakukan kehendak Allah, jika kita sebagai orang percaya tak melakukan kehendakNYA maka kita tidak diperkenankan masuk ke dunia yang akan datang sebagai Anggota Keluarga Kerajaan Allah. Siapakah anggota keluarga kerajaan Allah itu? Mereka adalah orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktu hidupnya (yang 70 tahun itu, sesuai syarat dan ketentuan berlaku :D) hanya untuk melakukan atau mengejar apa yang menjadi keinginan dirinya yang sudah terpengaruh oleh dunia ini . Tapi mereka adalah orang-orang yang menghargai setiap detik hidup nya sebagia suatu kesempatan untuk melakukan kehendak Bapa dengan tepat seperti yang Bapa mau sehingga Bapa tersenyum saat mereka dibumi bahkan saat di Sorga nanti. Mereka adalah orang-orang yang akan membantu Tuhan Yesus memimpin Kerajaan Allah (mereka memerintah bersama-sama) dengan Allah. So guys jangan hanya sibuk mempelajari bahasa inggris/jerman/belanda/jepang/korea saja tp sibuklah untuk mengupgrade diri kita untuk mampu mengenal pribadiNYA yang Agung sehingga bisa memahami bahasaNYA.

Hidup dalam Keteraturan

0

Hewan dan binatang serta beberapa organisme lainnya dapat dikatakan sebagai makhluk hidup karena memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan makhluk hidup. Ciri-ciri tersebut ialah homeostatis, melakukan metabolisme, tumbuh dan berkembang, melakukan reproduksi, peka terhadap rangsang, mampu melakukan adaptasi, dan yang terutama adalah keteraturan.

Bagian terkecil sebagai unit struktural dan unit fungsional dalam makhluk hidup ialah sel. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 37 triliun sel, dimana hubungan antar sel selalu berjalan setiap waktu bahkan dalam hitungan sepersekian detik tanpa mengalami hambatan miss comunication.

Setiap bentuk kehidupan memiliki DNA yang mengandung sifat untuk diturunkan kepada keturunan selanjutnya. DNA-DNA ini membentuk sebuah rantai panjang yang teratur dan tertata rapi, sehingga ketika kode DNA diterjemahkan, akan menghasilkan sifat yang tepat sesuai yang dibutuhkan tubuh. Namun jika rantai DNA terdapat sedikit ketidakteraturan, meskipun hanya tersisipi oleh satu kode DNA yang lain, maka akan terjadi salah terjemah. Kondisi seperti ini disebut sebagai mutasi. Mutasi akan mengakibatkan perubahan sifat fisik maupun fungsi tubuh makhluk hidup, yang umumnya dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Dalam kisah awal mula penciptaan pada kitab Kejadian, dikatakan bahwa Allah sudah menciptakan dunia ini dengan keadaan sungguh amat baik. Keadaan sungguh amat baik ini adalah keadaan dimana setiap makhluk di bumi dan seluruh jagad raya ini berada dalam keteraturan-Nya. Perbedaan individu manusia, hewan, dan tumbuhan, diciptakan oleh Allah untuk hidup berdampingan dalam keteraturan. Inilah sebabnya, keteraturan makhluk hidup adalah ciri utama sesuatu disebut sebagai makhluk ini, karena komponen terkecil dalam diri individu tersebut teratur. Betapa mengerikan efek yang terjadi jika sel dalam tubuh kita kacau, akan memicu berbagai penyakit. Begitu juga dengan efek yang terjadi jika manusia kacau, akan memicu berbagai ketidakseimbangan di dunia ini.

Terdapat prinsip ‘tabur tuai’, yang seharusnya membuat hidup manusia menjadi teratur. Prinsip tabur tuai ini ‘menjaga’ orang kristen agar tetap pada jalur yang sudah ditetapkan Tuhan. Ketika kita melakukan sesuatu atau menabur sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita menyenangkan hati Tuhan. Namun ketika kita hidup sembarangan, tidak melakukan kehendak Tuhan, maka kita dapat menuai hal-hal yang tidak baik, bahkan dapat menuai kematian (Roma 6:23). Tuhan sudah menciptakan kehidupan ini sungguh amat baik dengan seluruh keteraturannya, baik dari wujud fisik dan fungsinya, hingga keteraturan dalam bertindak. Sekarang adalah giliran kita, untuk tetap menjaga keteraturan ini atau kita akan hidup sembarangan dan mengubahnya. Selamat memilih.

(IVN)

Tuhan yang Menilai

0

Sebuah renungan awal tahun di tahun politik

Pelanggaran yang terjadi di taman Eden hanya dilihat oleh Tuhan. Belum ada gereja dan belum ada agama yang bisa menjatuhkan putusan bahwa Adam dan Hawa telah melanggar aturan gereja dan telah menistakan agama. Tidak ada manusia lain yang dapat memberikan penilaian terhadap tindakan Adam dan Hawa karena memang belum ada manusia lain selain mereka berdua. Saat itu hanya Tuhan yang memperhatikan sekaligus menilai sikap dan perbuatan Adam dan Hawa. Tuhan adalah pihak yang berwenang untuk memutuskan apakah suatu perbuatan itu benar atau salah. Dalam istilah hukum tata negara, Tuhan-lah menjadi lembaga yudikatif.

Jika Tuhan tampil sebagai lembaga yudikatif di kitab Kejadian 3 maka narasi di Kejadian 2 menampilkan Tuhan sebagai legislator. Kemudian dari Kejadian 1 sampai 3 akan jelas terlihat Dia hadir juga sebagai badan eksekutif. Ketiga fungsi tersebut – Eksekutf, Legislatif, dan Yudikatif – ada di dalam diri Allah. Inilah kekuasaan absolut yang dimiliki Allah Sang Pencipta. Jika kita melongok sejenak ke kehidupan berbangsa dan bernegara maka ketiga fungsi tersebut tidak boleh dimiliki oleh satu pihak. Karena sejarah dunia – dimulai dari era Yunani kuno hingga era modern – telah memberikan pelajaran yang berharga bahwa kekuasaan absolut pada akhirnya tidak pernah menghasilkan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi masyarakatnya. Maka power sharing terhadap ketiga fungsi tersebut dalam sebuah negara akan menjamin tegaknya keadilan dan terciptanya kesejahteraan bangsa tersebut.

Sehubungan dengan power sharing tersebut, ada masa-masa tertentu dalam sebuah negara dimana ketiga fungsi tersebut diperebutkan oleh orang-orang tertentu dalam sebuah kontetasi konstitusional-politik. Para calon legislatif dan eksekutif memperebutkan suara rakyat agar bisa masuk ke istana dan/atau gedung DPR/MPR. Mereka akan melakukan segalanya dan bahkan mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan penilaian dari masyarakat. Penilaian dari masyarakat itulah yang akan menentukan bahwa mereka layak menduduki jabatan-jabatan tersebut (sebagai presiden dan sebagai anggota legislatif). Masa-masa tersebut dikenal sebagai masa Pemilu atau juga disebut sebagai tahun politik, seperti yang saat ini tengah berlangsung di negara kita Indonesia. Jadi sesungguhnya, ide power sharing itulah yang melahirkan kegiatan “Pemilihan Umum”, yaitu untuk menjamin tidak terjadinya absolutisme kekuasaan dalam sebuah negara.

Berbeda urusannya dalam bidang keagamaan. Orang-orang beragama tidak pernah bermasalah dengan kekuasaan absolut Tuhan. Ditopang oleh keyakinan terhadap Tuhan Sang Pencipta yang bukan saja Maha Kuasa melainkan juga Maha Baik, maka orang beragama dengan segera dan penuh kerelaan-kepatuhan menerima kekuasaan absolut Tuhan tersebut. Hal inilah yang menyebabkan agama dan politik by default terpisah satu sama lain. Agama adalah keyakinan imani akan kekuasaan absolut Tuhan terhadap manusia, sementara politik adalah tentang pembagian kekuasaan manusia terhadap sesamanya. Setiap usaha untuk menyatukannya agama dan politik dalam satu lembaga akan menciptakan jalan buntu bagi kemanusiaan, sebuah chaos dalam kehidupan sosial-masyarakat.

Jika tidak setuju dengan pendapat ini, pergilah ke perpustakaan dan pelajarilah sejarah revolusi Perancis! Betapa kombinasi agama dan politik menjadi ramuan beracun bagi kehidupan masyarakat. Mengapa agama dan politik tidak dapat disatukan dalam satu lembaga? Ada dua alasan, pertama karena DNA keduanya memang berbeda: agama adalah tentang keyakinan batiniah, sedangkan politik meminati kepentingan lahiriah. Alasan kedua karena dari pengalaman yang sudah-sudah setiap perkawinan antara politik dan agama selalu berjalan dengan satu tujuan: bagaimana menggunakan sentimen agama demi memuluskan tercapainya kepentingan lahiriah. Hal itu nampak jelas dalam sejarah bangsa-bangsa, dimana era kejayaan perkawinan agama dan politik dikenal juga sebagai era skolastik, dimana keyakinan iman yang mendasari berbagai pengetahuan digunakan untuk melegitimasi kekuasaan lahiriah. Sejarah mencatat bahwa masa-masa itu dikenal juga sebagai masa kegelapan (dark ages).

Revolusi Perancis menciptakan angin perubahan besar yang berdampak pada terhalaunya masa kegelapan di Eropa. Angin perubahan itu berhembus terutama menuju dua arah: Amerika dan Jerman, lalu pada gilirannya juga berhembus di daratan Inggris Raya. Angin perubahan itu menciptakan kondisi berbeda-beda di ketiga negara tersebut, namun memiliki semangat yang sama, yaitu terciptanya kembali iklim demokrasi. Kesan buruk demokrasi dimulai sejak eksekusi mati Sokrates di awal abad 4 SM. Sejak itulah demokrasi perlahan-lahan ditinggalkan orang-orang dan digantikan dengan monarki. Waktu terus bergulir dan pada akhirnya monarki tersebut menyatu dengan keagamaan – dalam hal ini agama Kristen – yaitu sejak abad 4 sesudah Masehi, sejak masa kaisar Konstantinus Agung. Sejak masa itulah kaisar sebagai pemimpin negara juga dianggap sebagai (menjadi) pemimpin agama. Inilah awal mula masa kegelapan di benua Eropa yang disebut sebagai the dark ages itu. Memang kesimpulan ini mengandung kesan simplifikasi sejarah panjang Eropa yang sangat terbuka untuk didebat, namun indikasinya sangat jelas dan sulit dibantah.

Apa yang mau disampaikan oleh esai ini adalah bahwa Kekristenan sebagai agama telah melewati suatu masa kejayaan lahiriahnya, yaitu dimana pemimpin negara juga dianggap atau merangkap pemimpin agama. Dengan kata lain, perkawinan agama dan politik pernah dialami oleh agama Kristen. Namun ironisnya justru masa itu dikenal sebagai masa kegelapan atau the dark ages (pembahasan mengenai apa dan bagaimana dark ages itu tidak akan dilakukan disini mengingat keterbatasan tempat). Oleh karena itulah di dunia modern saat ini – di negara manapun bahkan negara yang mayoritas Kristen sekalipun – tidak ada partai Kristen. Sekalipun masih pernah ada usaha untuk itu namun saat ini sudah nyaris atau bahkan sudah tidak ada lagi hal seperti itu. Karena seharusnya dan sejatinya Kristen sebagai agama sudah cukup bijaksana untuk dapat memisahkan antara agama dan politik. Kristen sejati tidak menggunakan sentimen agama demi mencapai tujuan politik. Agama ya agama, politik ya politik! Keduanya jangan dicampur-adukan!

Namun faktanya masih saja ada orang beragama yang masih bisa dibodohi, yang mau saja ditarik-tarik dengan simbol dan slogan agama untuk memerangi kepentingan lawan politik! Orang beragama yang sejati adalah mereka yang bukan saja beragama tetapi terlebihi dulu ber-Tuhan. Orang yang ber-Tuhan adalah ia yang memahami bahwa hidupnya dinilai oleh Tuhan. Segala tingkah lakunya diperhatikan dan dinilai oleh Tuhan, itulah yang utama. Maka ia akan sibuk dengan penilaian Tuhan bukan penilaian manusia. Jika ia bekerja ia tidak akan menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan pribadi, karena ia tahu ada Tuhan yang menilai sikap dan perbuatannya. Tentu saja ia tidak menyebarkan dan pro terhadap kebohongan. Orang yang beragama namun tidak ber-Tuhan pasti ia akan berpolitik, menghalalkan segala cara demi mencapai kepentingannya. Karena pada akhirnya politik itu adalah tentang bagaimana mendapatkan dukungan suara manusia (penilaian manusia) demi mendapatkan kejayaan lahiriah di bumi. Sedangkan agama sejatinya mengajarkan manusia untuk mendapatkan dukungan suara Sorga (penilaian Tuhan) demi kehidupan abadi. Seperti ada tertulis, “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17)

Apa yang disebutkan di awal tulisan ini bahwa Tuhan-lah yang menilai perbuatan manusia kiranya menjadi perenungan bersama menuju kehidupan yang bermakna. Memang manusia bisa memberikan penilaian terhadap sesamanya namun pada akhirnya penilaian Tuhan-lah yang menentukan nasib kekal manusia. Sebagai makhluk sosial kita memang harus memperhatikan penilaian orang lain terhadap diri kita demi kebaikan kita sendiri dan kebaikan bersama. Namun haruslah disadari sungguh-sungguh bahwa penilaian Tuhan-lah yang akan menentukan nasib kekal kita. Adalah baik bila kita memperoleh dukungan suara (penilaian baik) dari sesama manusia, namun jika itu diperoleh dengan cara yang tidak pantas akan menjadi bumerang di kemudian hari. Karena Dia Allah yang Adil dan Mahatahu. Dia akan membalaskan kepada setiap orang sesuai perbuatannya (Matius 16:27, Roma 2:6, Wahyu 2:23, 22:12).

Pada umumnya manusia sibuk untuk mendapatkan penilaian dari manusia. Tetapi orang percaya dididik untuk memperhatikan penilaian dari Tuhan. Karena masa depan kita bukan di bumi sekarang ini melainkan di Langit Yang Baru dan Bumi Yang Baru. Jika fokus hidup seseorang hanya pada dunia fana maka ia akan sibuk dengan penilaian manusia, tetapi jika ia memandang kekekalan ia akan sibuk dengan penilaian dari Tuhan. Berjuanglah untuk memperoleh penilaian dari Tuhan bukan manusia, karena pada akhirnya Tuhan yang menilai hidup manusia!

Pengulangan Tahun

0

Ketika kita dilahirkan ke dunia, kita belum tahu apa itu kehidupan. Kita belum tahu seperti apa dunia itu. Kita hanya merasakan bahwa kita berada di tempat yg berbeda dari yg biasanya. Biasanya kita ditempat yg aman dan tenang yaitu dalam rahim ibu, dan akhirnya keluar dari zona nyaman tersebut. Hembusan nafas kita yg pertama diikuti oleh sebuah tangisan yang menandakan kita ini hidup. Lalu diberikanlah identitas kita yg pertama yaitu suatu nama dengan harapan yang terkandung di dalamnya. Kita mulai bertumbuh hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, lalu tahun demi tahun. Kita mengalami proses pengulangan tahun yang biasa disebut dengan ulang tahun. Secara umum ulang tahun adalah momen yg ditunggu karena:

  1. Saat kita berulang tahun, ada banyak doa, ucapan, hadiah dan harapan yang ditujukan kepada kita dari orang-orang yang menyayangi kita.
  2. Ulang tahun juga biasanya menjadi tolok ukur atau titik awal kita untuk melakukan suatu perubahan dalam diri kita, misalnya; kita mau memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan (jam doa), kita mau mengganti kebiasaan menonton TV dengan kebiasaan membaca firman atau membaca buku rohani.
  3. Banyak orang yang menjadikan ulang tahun sebagai alasan yang kuat untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang-orang sekitarnya, contohnya adalah kita belajar memaafkan dan melupakan orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita sehingga kita dapat belajar menerima keadaan yang terjadi.
  4. Ulang tahun juga sering menjadi dasar  kita untuk menetapkan rencana-rencana ke depan dalam hidup kita.

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah mengapa keempat hal tadi mulai dilakukan saat kita berulang tahun (saja)? Logikanya, ulang tahun merupakan saat dimana bertambahnya satu tahun umur kita yang harusnya diikuti dengan bertambahnya tingkat kedewasaan atau kematangan seseorang dalam berpikir, memilih, memutuskan dan bertindak sesuatu. Jadi, kita meyakini dan berharap bahwa dengan bertambahnya usia kita, pasti pola pikir kita makin dewasa sehingga mampu mengelola hidup dengan baik. Tetapi nyatanya, banyak orang yang perubahannya tak kunjung terbukti. Jadi, kesimpulannya yang salah keyakinannya atau cara menjalani hidupnya? Keyakinan tanpa alasan yang kuat itu namanya asumsi, yakin tapi tidak memiliki tekad yang kuat untuk berubah.

Berikut ini adalah fakta-fakta mengenai ulang tahun yang tidak kita sadari, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Saat kita berulang tahun, pasti orang-orang di sekitar kita mengucapkan harapan dan doa “semoga panjang umur”. Padahal realitanya umur kita bukan semakin panjang, tapi semakin pendek dan bukan semakin bertambah tapi semakin berkurang. Jika kita menjalani hidup saat ini, kita menjalani sisa umur yang kita miliki.    
  2. Sebagian orang berpikir bahwa ulang tahun harus dirayakan atau dibuat pesta, sebagai bentuk syukur atau bentuk kebahagian karena diberi tambahan umur 1 tahun. Padahal tidak perlu perayaan jika tidak ada prestasi hidup yang perlu dibanggakan. Dalam hal ini prestasi kita sebagai orang percaya adalah bagaimana kita bisa semakin serupa dengan Allah karena setiap pesta akan berakhir.
  3. Semakin bertambah umur, maka semakin menurun pula kondisi fisik tubuh. Saat inilah kita harus sadar kalau kita mahluk rentan atau ringkih, yang kapan saja bisa sakit bahkan mati.
  4. Ada yang bilang  “Selamat ulang tahun, semoga dimudahkan dalam segala hal” padahal doa tersebut atau harapan tersebut adalah harapan yang membuat kita menjadi pribadi yang tidak dewasa. Kalau semuanya mudah, lalu untuk apa kita memahami proses dalam sebuah kehidupan?
  5. Kemudian ada lagi yang mengucapkan “Selamat ulang tahun ya, cepat menikah / cepat dapat jodoh”. Sebagian orang berpikir dengan mendapatkan jodoh atau menikah, kehidupan seseorang menjadi bahagia atau lebih bahagia. Padahal sebenarnya bahagia itu bukan terletak pada hal-hal yang sifatnya lahiriah atau pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi pada hal-hal yang sifatnya batiniah atau pemenuhan kebutuhan rohani. Karena hal-hal yang bersifat jasmani itu sementara, namun yang rohani itu sifatnya kekal.

Lalu bagaimana kita bisa memaknai pengulangan tahun dalam hidup kita? Satu hal yang perlu kita tahu dan catat yaitu, kehidupan ini berjalan dalam perjalanan waktu, dan durasi waktu hidup manusia ada ujungnya, ada akhirnya. Kita tidak mungkin muda selamanya, kita tidak mungkin sehat selamanya, dan kita juga tidak mungkin hidup selamanya. Sekarang kita mengerti kalau pemazmur berkata; “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12).

Kita diingatkan untuk menghitung hari, maksudnya adalah kita harus menghargai waktu yang Tuhan berikan kepada kita, sebab waktu adalah sebuah kesempatan. Sebagai orang yang telah ditebus oleh Tuhan, harusnya hidup kita hanya bagi Tuhan Sang Penebus kita, termasuk waktu yang kita gunakan, harusnya membawa kita untuk dapat menyelesaikan tugas sebagai anak tebusan. Tugas anak tebusan adalah menjalani hidup sebagai anak tebusan yang tunduk pada Tuhan dan pada realitas waktu yang akan berakhir.

Ada ungkapan “waktu adalah uang”, tapi sebenarnya lebih dari itu, waktu adalah bentuk penjagaan Tuhan pada kita sebagai orang percaya agar orang percaya serius mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, mengingat ada waktu yang terus berjalan. Tuhan menjagai orang percaya dengan waktu agar orang percaya bisa mengukur setiap tindakan yang sudah atau yang akan dilakukan. Kita sebagai orang percaya yang ditebus, harus memaksimalkan potensi hidup kita (kerja, sekolah, mengurus rumah tangga) demi untuk mempersembahkan hidup pada Tuhan, supaya kelak diterima Tuhan di kemah abadi.

Bayangkan jika kita tidak hidup dalam perjalanan waktu maka manusia semakin hari semakin tidak memperhitungkan setiap langkah hidupnya karena tidak ada yang mengukurnya dan pasti orang yang tidak memperhitungkan setiap tindakannya, tidak akan diterima Tuhan di kemah abadi. Inilah bentuk kasih sayang Tuhan kepada kita. Bukan hanya menebus kita, tapi juga ‘menuntut’ tanggung jawab kita agar kita berkeadaan pantas disebut sebagai anak Bapa. Jadi, selama kita masih bisa bangun di pagi hari, berarti kita masih punya kesempatan. Waktu kita jalan ke kantor atau kampus, tiba dengan selamat tanpa ada celaka artinya itu satu kesempatan lagi untuk kita dan selama itu pula kita harus berubah dan terus berubah agar bisa serupa dengan Tuhan.

Selamat berubah!

Aku Membenci Sahabatku!

0

Saya mempunyai teman, yang saya sangat tidak sukai, bahkan saya membenci dia. Tetapi, dia selalu bersama sama dengan saya. Dia menjadi teman saya sejak saya lahir, dia pun lahir, dia bertumbuh bersama saya. Dia kenal persis setiap detail hidup saya, dia tahu persis ketakutan ketakutan saya, betapa setianya dia terhadap saya..

Dia muncul ketika saya sedang dalam situasi yang penting dan genting, dia tahu persis waktu yang tepat untuk memberitahu saya soal pilihan yang harus saya ambil. Namun, dia akan nyuruh saya untuk memilih hal yang mudah, yang tidak beresiko, dia senang kalau saya pilih jalan teraman dan singkat waktunya. Bahkan, dia meyakinkan saya bahwa apa yang saya lakukan itu bener, kalo saya ini yah udah segini limit nya, rata-rata aja, tidak bisa lebih dari rata rata, tidak seperti orang lain, Jadi jangan belagu.

Lalu, semakin saya sadar apa yang dia perbuat ke saya, saya mulai anggap dia adalah monster. Kenapa monster? Karena dia sangat berbahaya buat saya, jadi harus saya lawan, bukan saya manjakan.

Gimana cara lawan monster ini?

Saya mulai tersadarkan bahwa, si monster ini yang ngebuat saya jadi pesimis, mungkin ini juga yang membuat teman-teman jadi biasa-biasa saja, tidak berani mengambil langkah kongkrit untuk suatu keputusan penting, cuma bisa mengidolakan orang lain saja, dan akhirnya jadi rata-rata saja.

Ternyata, yang punya monster ini bukan saya doang. Teman-teman harus sadar setiap kita memiliki teman sejati yang sesungguhnya, ia adalah monster buat teman-teman sendiri, kita semua punya monster dalam diri yang harus kita kalahkan.

Untuk bisa melawan monster ini, kita butuh strategi!

Yang pertama, harus kita sadari mungkin adalah, mungkin kita punya rasa takut, tapi mau sampai kapan kita takut? Kita tidak akan bisa menghilangkan rasa takut ini, yang bisa kita lakukan adalah, kita jalan bersama dengan rasa takut ini, “gua takut sih, tapi yaudah gua harus ambil keputusan ini.” Rasa takut akan terus ada! Rasa takut ini normal dialami setiap manusia, tapi siapa yang tetap melangkah melawan rasa takutnya, dia yang akan menang.

“I’m sorry bro, today you lose!”

Selanjutnya, jangan berikan kesempatan untuk si monster. Jangan kasih tenaga untuk si monster semakin menjadi kuat. Jangan manjakan si monster. Mulai belajar bikin jadwal konkrit keseharian kita. Misal, jam 7 pagi saya akan bangun cuci muka lalu mulai baca buku 1 jam. Nah, waktu kita melakukan jadwal kita itu, dengan segera kita mencari spot nyaman kita untuk duduk lalu membaca.

Ini memang sulit, berubah dari kebiasaan kita itu pasti susah banget, kalau saya boleh sarankan, kita belajar membuat satu fokus yang harus kita selesaikan hari ini. Kalau langsung banyak yang kita kerjakan, bisa-bisa kita tidak menyelesaikan yang kita kerjakan itu. Kalau satu hal itu tadi sudah jadi kebiasaan kita, contohnya “membaca”, kalau sudah terbiasa membaca buku jam 7 pagi, baru kita mulai membuat jadwal lain.

Intinya, jangan kasih celah dia yang pegang kendali hidup kita.

Kita bisa bunuh monster dalam diri kita.

Ingat, walaupun dia ada bersama kita sejak lahir, tapi dia adalah musuh terbesar kita!
Tujuan kita diciptakan adalah supaya kita segambar dan serupa dengan Allah. Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan adalah agar kita kembali pada rancangan semula Allah, yaitu untuk bisa memiliki gambar dan rupa Allah.

Berarti, kita harus bisa mematikan monster ini, seperti yang Paulus ajarkan pada kita dalam kolose 3:5-17. Untuk bisa mematikannya, kita harus memiliki cara hidup anak Allah, seperti apa? Yang diajarkan Alkitab. Kita harus belajar kebenaran firman Tuhan agar kita bisa memiliki cara hidup anak Allah dan memiliki hikmat untuk menjalaninya. Dengan begitu, kita masuk dalam proses pendewasaan iman kepada Kristus , proses mematikan monster dan memiliki cara hidup yang baru, dan ini harus kita lakukan intensif. Memiliki pergaulan dengan Tuhan dalam doa renungan saat teduh pribadi, hidup bersama dan melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kita serta keputusan yang akan kita ambil.

Dengan kenal musuh kita ini dan strategi mengalahkannya, kita memiliki keyakinan kuat untuk jadi mau belajar mengalahkan si monster, yaitu belajar semakin mengenal Sahabat kita yang sesungguhnya, yaitu Tuhan Yesus. Melibatkan Dia dalam setiap langkah hidup kita, dan membangun hubungan lewat perenungan pribadi setiap harinya.

Keputusan yang kita ambil, Jadikan Tuhan sebagai sahabat kita.

Selamat bertarung!

(KAR)

Dilan, Aku Rindu!

0

Hampir semua orang penyuka novel dalam negeri dan pecinta film tahu siapa sosok Dilan. Terbayang di benak kita kata “rindu” itu kata-kata khas seorang Dilan yang dilontarkan kepada Milea.

Milea : “Dilan, kamu dimana? Aku rindu.”

Dilan : “Jangan rindu, rindu itu berat, biar aku saja.”

Kurang lebih percakapannya seperti itu.

Dalam KBBI, rindu berarti rasa sangat ingin dan berharap benar kepada sesuatu; memiliki keinginan kuat untuk bertemu. Rindu biasanya dirasakan oleh orang-orang yang sedang tidak bertemu dengan seseorang, sehingga kita akan merasa ingin sekali bertemu dengan objek tersebut. Misalnya, dua pasang sejoli yang LDR (Long Distance Relationship), mereka pasti akan memiliki rasa rindu satu dengan yang lain. Sama halnya dengan Milea yang rindu kepada Dilan karena beberapa waktu tidak bertemu. Memang benar kata Dilan, rindu itu berat. Kita harus menahan dan mengusahakan cara, bagaimana, kapan, dan dimana kita bisa melepas rindu kepada seseorang.

Sebagai orang Kristen, kita harus sadar seberapa rindu kita bertemu dengan Tuhan. Apakah kita selama ini merindukan Tuhan hadir dalam kehidupan kita? Apakah kita rindu dibentuk oleh Tuhan? Apakah kita menyiapkan waktu untuk bertemu dengan Tuhan? Apakah kita rindu hidup kita dipimpin oleh-Nya?

Ibrani 11:16 (TB) Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Dalam ayat tersebut yang merupakan perikop dari “Saksi-saksi Iman” menekankan kita bahwa hidup yang sesungguhnya adalah di kekelan nanti, dan kita harus merindukan tanah air sorgawi. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan merindukan Si Pemilik tanah air sorgawi, yaitu Bapa di sorga.

Dikutip dari salah satu lagu Pdt. Dr. Erastus Sabdono :

“Kerinduanku sebelum akhir hidupku

Melakukan yang Bapa ingini”

Sudahkah kita merasakan rindu yang benar terhadap apa yang Bapa ingini dalam hidup kita? Yang berat bukan rindunya Dilan, namun untuk melakukan kehendak Bapa, ini merupakan kerinduan yang paling berat karena harganya adalah memikul salib. Tapi, seberat-beratnya rindu untuk bertemu Tuhan, kita harus berusaha untuk melepas rindu tersebut dengan mencari wajah-Nya dan duduk di hadirat-Nya. Saat kita mampu melepas rindu kepada Bapa, kita akan merasakan sukacita yang tidak bisa digambarkan bahkan tidak terbayangkan. Mari, mulailah merindukan hadirat Bapa supaya kita bisa menyenangkan hati-Nya.

Mulailah kalimat sederhana ini, “Tuhan, aku rindu. Aku rindu mendengar suara-Mu,” dan teruskan jika sudah memulainya!

Bernyanyi (Bermazmur) Itu Meneduhkan

0

Bermazmur adalah mengungkapkan apa yang kita rasakan tentang Tuhan. Ingat, apa yang kita rasakan. Yang tidak kita rasakan tapi kita ucapkan itu berarti bohong. Itu sama saja dengan menipu Tuhan. Dan pada kenyataannya banyak orang yang melakukan itu, hanya karena ingin dipandang ‘rohani’ atau hanya karena ingin disebut sebagai ‘pemazmur yang hebat’, padahal dalam hatinya ia menipu Tuhan.

Tujuan bermazmur selain untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan tentang Tuhan, juga sebagai ‘sarana’ yang meneduhkan batin kita. Bermazmur itu menenangkan. Itu bukan sekedar ucapan belaka, tapi memang jujur dan tulus adanya. Enggak percaya? Coba makanya.

Di saat banyak masalah, mengucap syukur dalam nyanyian itu seperti obat yang melegakan. Ia sungguh menenangkan pikiran. Dengan bermazmur kita bernyanyi untuk Tuhan, dengan bermazmur kita berdoa untuk Tuhan, dengan bermazmur kita berserah kepada Tuhan. Dengan berserah, kita bisa percaya akan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan itu (Roma 8:28). Ternyata Tuhan memakai nyanyian atau mazmur sebagai ‘sarana’ kita untuk datang kepadaNya. Seperti Raja Daud yang hidupnya begitu dihajar Tuhan, namun ia tak henti-hentinya menaikkan mazmurnya untuk Tuhan.

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!”

(Mazmur 42:5)

“Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepadaMu…”

(Mazmur 4:6)

Ia sadar ia tertekan, tapi kesadarannya akan kebutuhan akan Tuhan mengalahkan kekuatirannya, mengalahkan kegelisahannya akan hidupnya. Ia tidak pernah berhenti bermazmur, bahkan sampai kitab Mazmur menjadi kitab terpanjang di antara kitab-kitab lain di dalam Alkitab; kitab yang berisi nyanyian atau mazmur Daud. Seorang seperti Raja Daud saja merasa membutuhkan Tuhan, masakan kita tidak?

Lalu apakah bermazmur hanya dapat dilakukan dengan benar hanya oleh seseorang yang sedang dalam masa-masa sulit saja? NO. Tentu bermazmur dapat dilakukan oleh semua orang, dalam segala situasi. Hanya saja, seseorang yang sedang berbeban berat mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk sungguh-sungguh daripada orang-orang yang merasa hidupnya baik-baik saja (tentu tergantung orangnya, mau sungguh-sungguh atau tidak). Tentunya ketika kita mulai terbiasa bermazmur, kita akan lebih mudah bermazmur dalam segala situasi. Lebih mudah connect dengan Tuhan. Baik atau buruknya kejadian yang sedang kita alami, kita pasti bisa bermazmur untuk Tuhan. Karena ternyata, bermazmur itu adalah kebiasaan baik; kebiasaan baik yang didapatkan dari ‘melakukan sesuatu secara berulang-ulang’. Dalam hal ini, ‘sesuatu’ itu adalah bermazmur. Jadikan bermazmur itu sebagai kebiasaan baikmu.

(RAN)